Sabtu, 06 November 2010

Kiai, Sastra dan Puisi



Oleh Almarhum KH. M. Ishomuddin Hadzik (Gus Ishom)

Setiap kali bertemu Kiai Mustofa Bisri, saya selalu ditagih apakah diwan atau
kitab kumpulan puisi karya Kiai Hasyim Asy’ari sudah ditemukan? Tentu
saya jawab belum. Bahkan setahu saya yang sejak 1994 menyunting belasan
karya Kiai Hasyim, beliau tak memiliki kumpulan puisi seperti yang
dimaksud penyair balsem asal Rembang itu.


Kalau ada satu dua bait puisi yang terselip di sela-sela tulisan beliau, memang ya. Tetapi
dalam bentuk antologi puisi, rasanya tidak ada. Padahal — selain Gus
Dur yang beberapa tahun silam pernah meminta Kiai Muchith Muzadi dan
Kiai Aziz Masyhuri melacak naskah-naskah karya Kiai Hasyim — sampai
kini mungkin cuma saya yang punya koleksi cukup lengkap.

Entah dari mana Mustofa Bisri mendapatkan informasi tentang antologi puisi
Kiai Hasyim itu. Yang jelas, kiai penyair ini rupanya terobsesi untuk
menerjemahkan puisi-puisi Kiai Hasyim ke dalam bahasa Indonesia supaya
bisa dinikmati khalayak yang lebih luas. Maklum, puisi-puisi yang
ditulis Kiai Hasyim — seperti halnya kiai-kiai lain di masa itu –
sebagian besar berbahasa Arab. Itu karena para kiai terkemuka di awal
abad XX rata-rata pernah mengenyam pendidikan di Timur Tengah. Tak
heran bila mereka terkadang lebih fasih berbicara dan menulis dalam
bahasa Arab ketimbang bahasa Melayu.

Kemampuan berbahasa Arab para kiai itu memang sangat mengagumkan. Mereka dituntut menguasai
bahasa dan sastra Arab karena merupakan pintu masuk untuk memahami dan
mengungkap rahasia Alquran. Kitab suci ini oleh kebanyakan orang Arab
bukan dianggap sekedar pedoman hidup, tetapi juga mukjizat kesusastraan
abadi yang mustahil ditandingi karya sastra mana pun. Karena itu,
seperti dinyatakan salah seorang teoritikus sastra Arab terkemuka,
Jalaluddin As Suyuthi, tanpa menguasai sastra Arab, mustahil dimensi
esoterik Alquran yang amat halus itu dapat dipahami dengan baik.

Tak seperti dipahami orang awam yang kadang membatasi kiai sekedar
agamawan, mereka ternyata juga peminat dan kolektor antologi karya para
sastrawan Arab terkemuka. Di perpustakaan sejumlah kiai, dapat
ditemukan diwan karya Imam Asy Syafi’i, Al Buhturi dan Al Farazdaq.
Bahkan kadang dijumpai karya sastra berbahasa Persia yang sudah
diterjemahkan, misalnya Mastnawi karya Jalaluddin Rumi atau Rubaiyyat Omar Khayyam.
Jangan tanya soal shalawat dan madaih nabawiyyah (pujian kepada Nabi), mereka gudangnya. Dari Banat Su’adu buah pena Ka’ab bin Zuhair dan Qashidah Al Burdah
karya Al Bushiri yang sangat imajinatif dan puitis, hingga beraneka
prosa dan puisi maulid, terutama karya Ja’far Al Barzanji. Malah ada
karya genuine yang mereka gubah sendiri, seperti Shalawat Quraniah tulisan Kiai Abdullah Umar Semarang yang mirip himne bagi para penghafal Alquran. Juga Shalawat Badar karya Kiai Ali Manshur Tuban yang amat populer dan nyaris menjadi shalawat wajib bagi kaum sarungan.

Keakraban dengan sastra Arab, menyebabkan karya intelektual dan karya sastra yang
lahir dari tangan para kiai tak lepas dari rumpun bahasa Semit ini.
Dari belasan judul karya Kiai Hasyim misalnya, hanya dua tiga buah
menggunakan bahasa Jawa bertulisan Arab pego. Sisanya berbahasa Arab.
Ayah Mustofa Bisri sendiri — yang namanya kebalikan dari sang anak,
Kiai Bisri Mustofa — meski banyak menerjemahkan kitab-kitab berbahasa
Arab ke dalam bahasa Jawa, tapi karya sastranya, Syarh Qashidah Munfarijah, buah pena Taqiuddin As Subki, juga berbahasa Arab.

Kepiawaian berolah kata para kiai itu muncul karena malakah atau naluri berekspresi yang mereka miliki berkat intensitasnya menggeluti sastra Arab. Bahkan, ada juga yang dianugerahi ikhtira’
alias kemampuan berimprovisasi sehingga ketika terlibat dalam sebuah
peristiwa, spontan dapat melahirkan puisi dan anekdot. Kiai Hasyim
pernah berdebat dengan Kiai Amar Faqih dalam suatu masalah.
Masing-masing menulis buku untuk mempertahankan pendapatnya. Ketika
polemik sudah mencapai puncak dan tak ada titik temu karena argumen
keduanya sama-sama bersumber dari Alquran, maka secara spontan Kiai
Hasyim menggubah sebait puisi Arab di akhir bukunya — yang kalau
diterjemahkan kira-kira demikian:

Aku boleh ragu
Kalian boleh ragu
Mereka boleh ragu
Tapi semua keraguan
tak akan menghapus kebenaran
firman Tuhan


Sebuah sajak sederhana, tapi memiliki kedalaman makna. Melalui sajak ini, Kiai
Hasyim menegaskan, pendapat yang lahir dari pemikiran seseorang harus
direlatifkan kebenarannya, dan karena itu bisa berbeda atau diragukan.
Kebenaran mutlak hanyalah kebenaran wahyu yang acapkali berada di luar
jangkauan nalar manusia.

Bagi para kiai, sajak berirama yang lazim disebut nazham
bahkan sering digunakan untuk merangkai teks-teks keagamaan agar lebih
mudah dihafal oleh para santri. Kiai Ahmad Qusyairi Siddiq Jember
misalnya, menulis 312 bait nazham berjudul Tanwir Al Hija
yang mengulas tuntas ajaran teologi dan ibadah bagi santri pemula.
Hebatnya, karya teologi dan fikih bercorak sufistik ini mendapatkan
perhatian hingga dibuatkan komentar panjang oleh ulama terkemuka Arab
Saudi, Sayyid Alwi bin Abbas Al Maliki, berjudul Inarat Ad Duja.
Menantu Kiai Siddiq, yaitu Kiai Abdul Hamid Pasuruan — seorang wali yang amat kesohor, tak kalah kreatif. Ia mensyairkan Sullam At Taufiq — sebuah kitab fikih sufistik yang bercorak Ghozalian dan menjadi mainstream pemahaman Islam Sunni di Indonesia — dalam 553 bait. Selain itu, ia
juga menyairkan 99 nama Allah yang dikenal sebagai Al Asma’ Al Husna.
Masih banyak lagi contoh lain yang bila diungkap satu per satu, akan
membuat tulisan ini jadi terlalu panjang.

Persoalannya, kini tak banyak lagi kiai atau gus yang memiliki malakah, apalagi ikhtira’
untuk menciptakan karya sastra. Bahkan, tingkat apresiasi mereka
terhadap sastra bisa dibilang sangat rendah. Ini merupakan sebuah
ironi, karena bila dibandingkan dengan generasi kiai terdahulu, mereka
yang belajar di Timur Tengah kini jauh lebih banyak. Tapi intensitas
menggeluti sastra dan melahirkan karya sangat kurang. Alumnus Timur
Tengah saat ini agaknya lebih suka menerjemahkan buku-buku berbahasa
Arab ke bahasa Indonesia ketimbang melahirkan karya genuine.
Larisnya penjualan buku terjemahan dan banyaknya penerbit yang
memfasilitasi penerbitan buku terjemahan seperti Mizan, Risalah Gusti
dan masih banyak lagi, mungkin menjadi salah satu faktor penyebab.
Akibatnya, seperti ditulis Hes Y Gumai dalam esainya, Memperkokoh Tradisi Sastra Kaum Santri (Republika, 28 April 2002), kalangan pesantren tak lagi mampu memproduksi karya
sastra yang cukup signifikan untuk ikut mewarnai jagad sastra nasional.
Apalagi mengintroduksi karya sastra yang sarat nilai-nilai religi dan
moral sebagai counter wacana terhadap karya sastra yang
mengedepankan nilai-nilai peradaban global, seperti konsep seksualitas
modern yang muncul pada karya-karya Ayu Utami.

Maka, tak mengherankan bila pesantren belakangan ini cenderung kering dari
sentuhan sastra, karena para kiai dan ustadz tak lagi produktif menulis
karya sastra, terutama puisi seperti dilakukan para pendahulunya.
Memang, ada beberapa nama yang pantas disebut, tapi jumlahnya bisa
dihitung dengan jari. Misalnya Mustofa Bisri dan Acep Zamzam Noor
(putera Kiai Ilyas Rukhiat). Tentu tak boleh dilupakan Celurit Emas D Zawawi Imron dan "Kiai Mbeling" Emha Ainun Nadjib.

Di luar itu, kita masih harus menunggu lama sampai munculnya nama-nama
lain yang meneruskan apresiasi sastra dan tradisi berpuisi dari para
kiai terdahulu.

Penulis adalah cerpenis, pekerja budaya dan pengasuh Pesantren Al Masruriah Tebuireng Jombang.
Sumber: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=83548&kat_id=102&kat_id1=&kat_id2=

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar